Latest Post

Tentang Surat Edaran Salat Berjamaah (Suatu Dialog Imajiner)

Sumber: republika.co.id
Suatu hari, dua orang kawan, Beddu dan Uceng, terlibat dalam diskusi seputar surat edaran salat berjamaah yang dikeluarkan oleh sejumlah Bupati/Walikota. Salah satu foto surat edaran tersebut, beredar dan mendapatkan cukup banyak puja-puji di media sosial. Mungkin saja, edaran itu tak ubahnya surat edaran biasa, yang bernuansa rutinitas birokrasi, sekiranya tidak beredar di dunia maya. Di ruang virtual inilah, perkara yang dianggap biasa sekalipun, bisa menjadi sesuatu yang menghebohkan diskursus publik.


Beddu dengan penuh kesyukuran mengapresiasi terbitnya surat edaran tersebut. “Alhamdulillah, surat edaran tersebut menunjukkan bahwa masih ada pemimpin kita, yang berupaya menegakkan syariat di Bumi Indonesia. Sudah jarang, pemimpin-pemimpin kita memiliki keberpihakan terhadap umat,” tandasnya.


Dengan kening berkerut, Uceng menyitir pendapat Michel Foucault, agama adalah salah satu lembaga produksi kekuasaan yang efektif. Agama mengatur individu dan masyarakat melalui teknik penyeragaman baik perilaku, bahasa, pakaian, maupun ritus. Dengan teknik ini, akan dihasilkan identitas, yang akan memudahkan untuk mendapatkan kepatuhan pemeluknya. 


“Surat edaran ini hanya pintu masuk, untuk mendapatkan kepatuhan lainnya. Umat Islam akan menganggap bahwa sang kepala daerah adalah orang saleh, sehingga membuat mereka akan menyetujui apapun kebijakannya yang lain. Atau, mungkin saja sang kepala daerah masih memiliki target politik jangka panjang. Anggap saja, ini investasi politik,” terang Uceng bernada curiga.


Dengan wajah serius, Beddu menimpali, “Jangan su’udzon  akhi, perbuatan yang baik seperti ini harus kita dukung. Soal niat, biarlah Allah yang menilai. Yang jelas, surat edaran yang diterbitkan beberapa kepala daerah ini, menunjukkan bahwa mereka adalah pemimpin yang mendorong rakyatnya semakin dekat dengan Allah. Kalau Allah cinta pada suatu negeri, niscaya kemakmuran dan kebahagiaan akan dilimpahkan oleh-Nya”.


Uceng buru-buru menampik bahwa ia tidak berprasangka buruk. Namun menurutnya, Indonesia bukan negara yang berlandaskan agama tertentu. Menyerukan salat berjamaah juga bukan tugas negara. Menurut konstitusi, yang diterakan dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 2, tugas negara adalah menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.


“Negara harus netral terhadap semua agama, bahkan jika pun harus ada edaran salat berjamaah, mesti pula ada edaran untuk melaksanaan kebaktian di gereja bagi yang beragama Kristen, atau anjuran untuk rajin sembahyang ke Vihara bagi penganut Hindu. Tapi, menurut saya edaran  seperti ini tidak perlu. Ini bukan tugas negara, ” ujarnya. 


Tugas negara, menurut Uceng, adalah memastikan bahwa semua orang bebas melaksanakan ibadah sesuai dengan paham keagamaan dan kepercayaannya masing-masing, selama tidak menganggu ketertiban sosial. 


Meski tak setuju, Beddu tampak tenang mendengarkan ulasan Uceng. Setelah mendapat giliran bicara, ia mencoba menggunakan pendekatan fungsionalisme. Beddu mengetengahkan data semakin banyaknya orang Indonesia yang memutuskan terlibat dalam gerakan ISIS di Suriah. 


“Berdasarkan data Polri, November 2015, sudah ada 384 Warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS. Dengan edaran ini, setidaknya bisa membuka mata Umat Islam, bahwa negara tidak sepenuhnya berwajah sekuler, sehingga sering disebut sebagai thogut. Edaran ini dapat berfungsi mengintegrasikan spirit penegakan syariah, tetap dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelas Beddu dengan mata berbinar. 


Beddu menambahkan, dengan rutin salat berjamaah, maka aparat sipil negara yang beragama Islam, akan lebih menginternalisasikan nilai spiritualitas, yang akan berimplikasi pada integritas mereka dalam menjalankan tanggungjawab negara. “Belum lagi jika dikaitkan dengan kesadaran waktu, hal ini akan membuat aparat kita, semakin disiplin dalam bekerja,” tambahnya. 


Uceng tetap tak tergoyahkan dengan logika tersebut, malah ia menunjukkan contoh, beberapa tahun lalu ada seorang Gubernur diberitakan sering terlihat di Masjid, bahkan di Bulan Ramadhan didapati tidur di Rumah Allah tersebut. “Kamu tahu kan, beberapa bulan lalu, Gubernur itu diciduk KPK karena korupsi. Nah, artinya ritual yang cenderung dipentaskan di ruang publik, lebih sering bernuansa pencitraan semata, tak berbanding lurus dengan tujuan esensial dari ritual tersebut,” pungkasnya.


Uceng lalu menyitir hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Sesungguhnya tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Menurutnya penggunaan kata “kecuali”, berarti tujuan utama segala syariat itu adalah penegakan akhlak. Sementara ritual itu adalah jalan menuju akhlak tersebut,” jelas Uceng. 


Akhlak itu, jelas Uceng, berupa tidak menebar kebencian kepada pihak lain, baik karena perbedaan paham agama, maupun pilihan politik. Akhlak juga berwujud sikap anti-korupsi dan berbagai tindak penyelewengan. Akhlak dimanifestasikan pula pada adanya kepedulian dan pemihakan terhadap kaum lemah (dhuafa) dan terpinggirkan (mustadhafien). Memiliki etos kerja yang menopang produktifitas juga artikulasi dari akhlak.


“Jika Kepala Daerah betul-betul memiliki komitmen keislaman yang kuat, tegakkanlah akhlak mulia dalam mengelola pemerintahan. Berdirilah diatas semua golongan, tegakkan konstitusi baik terhadap kaum mayoritas maupun minoritas. Membangun akuntabilitas dan transparansi, yang bisa mencegah korupsi. Pedulilah terhadap kaum papa, tegakkan keadilan sosial. Niscaya, inilah aktualisasi dari penegakan tujuan syariat Islam,” tegas Uceng berapi-api.


Beddu kembali ingin menganggapi. Namun, tiba-tiba saya terbangun, lamat-lamat adzan Subuh mulai terdengar. Ternyata saya cuma mimpi. Ya, mungkin saja penegakan tujuan Syariat Islam pun hanya mimpi. Kita lebih senang pada gincu yang mencolok tanpa rasa, daripada garam yang lebih berasa, tapi tak terlihat. Bukankah begitu?




 

Alifian Mallarangeng, Buku dan Penjara



Jumat, 18 Oktober 2013, Rizal Mallarangeng menjenguk kakaknya Alifian Mallarangeng ke tahanan KPK. Hal yang menarik adalah Rizal membawakan sebuah novel cukup tebal, karya penulis Dan Brown, Inferno. Sekilas nampak ini adalah sebuah peristiwa biasa. Namun saya juga tertarik untuk menafsirkan peristiwa tersebut dengan beberapa sudut pandang yang berbeda.
Pertama, judul buku yang dibawa oleh Rizal berjudul Inferno, yang secara harfiah berarti neraka. Entah sebuah kebetulan yang disengaja, sama halnya dengan penjara. Bagi sebagian besar manusia normal, pasti akan memandang penjara itu sebagai neraka dunia. Betapa tidak, kebebasan terenggut, kenyamanan hidup sebagaimana biasanya juga dirampas.
Dalam salah satu resensi Novel karya Dan Brown ini, disebutkan bahwa Inferno diinspirasi oleh mahakarya sastra Italia, Divina Commedia. Puisi karya sastrawan besar Italia, Dante, ini menceritakan perjalanan Dante dalam mengunjungi tiga alam, Inferno (neraka), Purgatorio (api penyucian), dan Paradiso (surga). Apakah Alifian Mallarangeng sedang menegaskan bahwa penjara KPK adalah perjalanan ke alam neraka (Inferno), setelah sebelumnya ia telah cukup lama mengunjungi Paradiso (Istana)?
Kedua, sang penulis Novel, Dan Brown, selama ini dikenal sebagai penulis novel bergenre penguak misteri dan permainan simbol. Para pembaca The Da Vinci Code dan The Lost Symbol tentu saja akan sangat mengenal gaya penulis fenomenal ini. “Melalui novel baru ini, aku merasa sangat bersemangat untuk membawa pembaca dalam sebuah petualangan jauh menuju ke dalam dunia yang misterius. Area yang penuh dengan kode, simbol, dan jalan-jalan rahasia,” tutur Dan Brown mengenai Inferno.
Apakah Trio Mallarangeng (Rizal, Alifian dan Choel) sedang menyiapkan sebuah road map penyingkapan misteri korupsi di negeri ini? Kalau ini seh, kedengaran terlalu heroik. Yang lebih realistis adalah, apakah ini babak pertama, dari sebuah kisah dramatis dan mengharukan, dimana Alifian akhirnya akan berhasil membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah sekaligus menguak aktor dibalik pembusukan namanya? Kita tunggu saja.   
Ketiga, Membaca Buku di Penjara. Tatkala membawakan buku Inferno untuk kakaknya, Rizal Mallarangeng menyampaikan bahwa sejak kecil Andi gemar membaca karya sastra luar dan lokal. Andi senang membaca novel fiksi yang bercerita tentang suku Indian di Amerika Serikat karya penulis Karl May, Winnetou. Kalau cerita silat Andi suka Kho Ping Ho.
Memang, dari sekian banyak tokoh yang pernah mengenal penjara, hampir semuanya selalu berkisah tentang kesetiaan buku sebagai teman membunuh waktu dalam penjara. Buku itu membebaskan, sedangkan penjara itu membatasi. Melalui buku, pikiran kita bisa bebas melanglang buana tidak terbatasi oleh dinding fisik (penjara). Buku juga memungkinkan kita untuk melintasi sekat-sekat pembatas pemikiran seperti ideologi, mazhab, dll.
Buku akan dijadikan oleh Alifian sebagai sahabat setia dalam kedinginan dinding penjara. Buku adalah pelipur lara, pemberi secercah kebahagiaan, di tengah badai kemurungan yang menerpa sang mantan Menpora ini. Mungkin karena itulah, seorang teman mendambakan agar surga itu berwujud perpustakaan. Sebab baginya puncak kenikmatan adalah hidup bergelimang dan bertafakkur bersama buku. “Surga yang isinya hanya kenikmatan makan dan seks, tidak menarik bagiku,” tandas sang kawan.
Mungkin Andi Mallarangeng memiliki filosofi hidup yang selaras dengan Thomas Jefferson, “I cannot live without books”, yang koleksinya membantu mengawali perpustakaan Kongres yang tersohor itu. Daniel Boorstin, penulis buku The Image, menyatakan bahwa “A person who doesn’t read books is only half-alive”. Dan jika para anggota dari suatu masyarakat berhenti membaca? “Then you have a half-alive society”. Lord Avebury berkata, “sebuah ruangan tanpa buku bagaikan tubuh yang tak memiliki jiwa”. Mungkin Andi Mallarangeng ingin sel tahanan yang ditempatinya bagaikan tubuh yang memiliki jiwa, maka ia pun membawa buku bersamanya.
Keempat, Menulis Buku di Penjara. Andi Mallarangeng disebut-sebut berencana membuat buku selama menjalani proses hukum terkait kasus dugaan korupsi pembangunan proyek Hambalang. Sel tahanan sering menjadi tempat yang paling ampuh bagi para tokoh untuk menulis buku. Beberapa judul buku fenomenal yang lahir dari balik jeruji penjara antara lain Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang ditulis di kamp tahanan politik Pulau Buru.
Sedangkan `Indonesia Menggugat` merupakan pledoi yang dibacakan oleh Bung Karno pada persidangan di Landraad, Bandung pada tahun 1930. Saat itu Bung Karno dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Dari balik jeruji penjara, Bung Karno menyusun dan menulis sendiri pledoinya tersebut. Isinya mengupas keadaan politik internasional dan kerusakan masyarakat Indonesia kala itu.
Akhirnya, secara pribadi saya termasuk orang yang cukup prihatin dengan kasus yang menimpa Andi Mallarangeng. Beliau adalah salah satu stok pemimpin muda yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata para politisi dan birokrat bangsa ini. Setidaknya, kualitas pemimpin adalah cerminan kualitas bangsa yang dipimpinnya.  Kalau misalnya kita sering menyaksikan ucapan slogan kosong dari para politisi kita, bukankah sedikit banyak itu juga memperlihatkan miskinnya logika dan cara berpikir kritis masyarakat yang menghasilkannya? Singkatnya, miskinnya wacana disebabkan oleh miskinnya logika yang disebabkan oleh miskinnya budaya baca.
Andi Mallarangeng adalah contoh tipe ideal politisi cerdas. Semoga saja dengan bantuan Dan Brown melalui Inferno, ia bisa menguak tabir misteri Hambalang. Kalau ia gagal, saya khawatir masyarakat akan pesimis memberi ruang kepemimpinan bagi orang cerdas. Bangsa ini mungkin saja tidak akan menganggap penting lagi kecerdasan. Dan itu artinya,  “Lonceng Kematian” Republik sebentar lagi berbunyi.
 

Suara Hati Sang Pohon untuk Calon Walikota



Bapak/Ibu Calon Walikota Makassar yang kami cintai. Sebagai bagian dari penghuni kota ini, kami merasa bangga karena cukup banyak putera-puteri terbaik yang ingin mengabdikan dedikasinya untuk Kota tempat kami tumbuh besar hingga saat ini. Kami yakin, kalian adalah imagi dei (pantulan wajah Tuhan) yang ingin menurunkan berkatnya bagi Makassar. Kami bangga, telah diijinkan bertumbuh di Kota yang memiliki sejarah dan peranan strategis melintasi abad. Sejarah mencatat, bahwa kota ini telah menjadi Kota Dunia sejak abad ke-18.
Kami bangga melihat bahwa proses demokratisasi di kota ini telah cukup matang. Tampak dari para calon walikota yang berasal dari beragam latar belakang, politisi, birokrat, pengusaha, akademisi, jurnalis, seolah semua kelompok memiliki representasi dari para kandidat ini. Oleh karena itu, kami percaya bahwa kalian bisa membuat Kota ini semakin baik.
Namun kiranya tak ada asalahnya jika kami sedikit menyampaikan curahan hati kami. Deru pembangunan di kota ini membuat kami terpinggirkan dan terpojok di sudut –sudut lorong. Di pinggir jalan kami berdiri, kami tergusur dengan dalih pelebaran jalan. Di tengah jalan kami berdiri kami pun tergusur, masih dengan alasan pelebaran jalan. Telah banyak teman-teman kami yang telah pergi mendahului kami atas nama pembangunan.
Mungkin, kami tinggal menunggu waktu. Tempat mana di kota ini yang memberi kami ruang bernafas. Pinggiran kota pun mulai dirambah oleh industri perumahan. Mungkin kalian lebih senang dengan pohon-pohon plastik yang kini sering dijadikan ornamen di berbagai mall. Kalian mungkin percaya bahwa dunia ini hanya tercipta untuk kalian. Oksigen tak kalian pikirkan, karena toh kalau ada krisis oksigen, mungkin saja kalian berpikir untuk mengguunakan tabung oksigen. Efek pemanasan global telah kalian antisipiasi dengnn menyediakan ruang kantor ber-AC.
Setelah senior kami kalian tebang, kami yang sudah tua renta, kalian pakui, kalian pasang wajah kalian yang penuh senyuman. Senyman yang jauh lebih manis dari senyuman bintang iklan pasta gigi sekalipun. Kau tutup waja kami yang renta, dengan wajahmu yang jauh lebih muda, jauh lebih gagah/cantiik, jauh lebih segar daripada wajah aslinya.
Luka yang kalian torehkan mungkin jauh lebih perih dibanding luka yang dirasakan Yesus ketika disalib. Luka kami mungkin jauh lebih perih dibanding para Jenderal yang diculik dan disiksa di Lubang Buaya. Hampir sepanjang tahun, kami tak pernah berhenti terluka. Usai gambar calon gubernur, kami harus terluka lagi untuk memasang topeng calon walikota. Luka kami belum kering, kami masih harus menyiapkan diri memasang topeng-topeng para calon anggota legislatif. Ini yang mungkin akan jauh lebih mengerikan. Jumlah kami mungkin tidak akan sebanding dengan atribut para caleg tersebut. Setelah itu derita kami kembali berlanjut dengan Pemilihan Presiden.
Apakah dengan demikian kami marah? Sehingga tak lagi ingin berbagai pada kalian. Tidak, kalian suka atau benci pada kami, kami tetap akan berbagi keteduhan, kami akan tetap berbagai oksigen kepada kaliian. Kecuali, luka yang kalian torehkan tak tertahankan lagi, membuat kami harus meregang nyawa.
Kami yang dipaku dan pernah dipaku tersebut, sudah merasa tak sehat lagi. Sebentar lagi daun kami berguguran, batang keropos. Jangan salahkan kami jika angin bertiup kami tumbang, kami bisa saja mencelakakan kalian. Kami bisa mengganggu kelancaran aktivitas kalian. Lantas apa yang kami harapkan padamu para calon Walikotaku? Selamatkan kami. Ijinkan kami tetap jadi penghuni Makassar. Please!
 

Sejumput Kenangan TM 2 IRM Barru


REKAM PROSES
PK TM II PD IRM BARRU
STKIP Muhammadiyah Kab. Barru: 01-03 Juli 2005
Oleh: Tim Fasilitator PW IRM Sulsel

Pengantar
Semula pelatihan yang akan digelar adalah Pelatihan Da’i Transformatif Ikatan Remaja Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Kegiatan ini direncanakan akan digelar pada tanggal 30 Juni-03 Juli 2005. Berhubung sampai tanggal 01 Juli 2005, peserta yang syogyanya berasal dari 25 Kabupaten/Kota Se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, hanya berjumlah 01 Orang berasal dari PD IRM Wajo. Maka diambillah kebijakan bersama yang ditetapkan lewat rapat koordinasi antara PW IRM Sulsel dan PD IRM Barru untuk mengkonversikan pelatihan ini menjadi Pelatihan Kader Taruna Melati II (PK TM II). Apalagi dengan melihat infrastruktur perkaderan yang ada di Kabupaten Barru, keberadaan PK TM II menjadi urgen adanya.

PK TM II ini digelar selama 2 hari (01-03 Juli 2005) .  Pelatihan Kader Taruna Melati II adalah  proses transisi dari pengkaderan Ikatan Remaja Muhammadiyah menuju jenjang yang lebih lanjut. PKM TM II menekankan pada dua aspek proses, yaitu pertama, pemahaman, pengamalan, pendalaman  Islam secara riil dan kedua, pengembangan kreatifitas dan ketrampilan. Maksud pemahaman, pengamalan, dan pendalaman Islam secara riil adalah adanya kesadaran kader untuk mengkaji dan mengamalkan Islam ke dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Dimulai dari pembentukan kelompok kajian rutin ke-Islaman sampai dengan membentuk kelompok Gerakan Jama’ah Dakwah Jama’ah (GJDJ) di masyarakat luas. Adapun maksud dari pengembangan kreatifitas dan ketrampilan adalah upaya pengembangkan bakat dan potensi kader serta memiliki kemampuan untuk merencanakan,  mengorganisir, dan mengelola gerakan IRM di tingkat pimpinan masing-masing.

Tim Fasilitator dalam pelatihan ini berasal dari PW IRM Sulsel dengan  komposisi: Erviyanti (Master of Training), M. Asratillah, M. Basri, Zaenal Abidin, Nur Ihsan, dan Nur Hidayah. Terkait dengan waktu yang sempit disertai dengan target pelatiahan yang agak besar. Maka disusunlah materi dengan menggunakan pendekatan analisis kebutuhan.
           
Kesepakatan yang dilakukan oleh tim adalah sikap fleksibel dalam materi maupun jadwal, melakukan metode partisipatoris dalam pelatihan dan menjadikan interaksi di luar ruang pelatihan sebagai bagian dari proses pelatihan itu sendiri (Baca: Pendampingan di luar forum). Oleh karena itu, pelatih juga harus melakukan pengamatan maupun berinteraksi secara intensif dengan peserta di luar jadwal pelatihan sebagai pertimbangan untuk menambah, mengubah, menghilangkan materi atau mengganti metode pelatihan bagi sesi berikutnya. Hal ini patut dilakukan karena pertimbangan dari masukan penyelenggara bahwa capaian target yang agak banyak. Adapun rincian rekam proses sebagai berikut :

Persiapan : 30 Juni 2005

Setelah melihat perkembangan jumlah peserta Pelatihan Da’i Transformatif , maka diputuskan untuk mempersiapkan PK TM II sebagai alternatif kegiatan pengganti sekaligus penguatan kapasitas kader IRM Barru.

01 Juli 2005 (21.00-23.30)

Pembukaan dengan rincian acara sebagai berikut:
1.      Pembukaan oleh Protokol (By Nur Haedah)
2.     Pembacaan Qalam Ilahi oleh Irmawati Nur Syamsi
3.     Menyanyikan Lagu Mars IRM dipimpin oleh Irmawan Zaenal Abidin
4.     Pengantar oleh Ketua Umum PD IRM Barru (Irmawan Awaluddin), beliau menggambarkan kesiapan Barru menjadi tuan rumah Pelatiahn Da’i Transformatif (PDT) IRM Se-Sulawesi Selatan, namun karena peserta yang diharapkan tak muncul-muncul. Maka untuk menghindari kemubaziran pengorbanan teman-teman Panitia Lokal mempersiapkan kegiatan PDT, maka PK TM II ini sangat tepat adanya.
5.     Sambutan Ketua Umum PW IRM Sulsel (Irmawan Hadisaputra) sekaligus membuka kegiatan PK TM II Secara resmi. Dalam sambutannya beliau mencoba mengajak hadirin untuk kembali membangkitkan spirit Ber-IRM.  Salah satu media utamanya adalah melalui momentum PK TM II ini. Tak lupa beliau menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena tak mampu memobilisasi PD IRM Se-Sulsel untuk mengikuti kegiatan PDT yang seyogyanya digelar sejak tanggal 30 Juni 2005.

Sesudah itu, pelatihan pun dimulai:

1.      Orientasi dan Kontrak Pelatihan dipandu oleh Irmawati Erviyanti (Ervy). Ervy mencoba mengelaborasi pengalaman peserta pada waktu mengikuti PK TM I dilanjutkan dengan meminta harapan peserta mengikurti PK TM II ini. Setelah itu Ervy menjelaskan  tentang tujuan pelatihan serta materi-materi yang ditawarkan oleh tim fasilitator. Adapun materi-materi yang ditawarkan:
·        Tauhid Sosial
·        Konsep Hati Suci
·        Kepemimpinan Kelompok
·        Menggalakkan GJDJ
·        Ideologi Gerakan IRM
·        Manajemen Kegiatan (Teknik Pembuatan Proposal Kegiatan)
·        Sistem Administrasi IRM

2.     Setelah dianggap para peserta sudah saling kenal, maka para peserta pun diberikan ujian. Dimana setiap peserta akan diberikan selembar kertas yang bertuliskan nama salah seoarang peserta lainnya. Tugas mereka adalah menemukan pemilik nama tersebut dalam jangka waktu 10 detik. Peserta yang gagal akan diberikan hukuman sesuai kesepakatan peserta. Yang menarik dari paket ini karena fasilitator juga turut berpartisipasi aktif dalam proses permainan. Sungguh naas, justru salah seorang fasilitator yang berinisial hs terpaksa harus terkena hukuman menyanyikan lagu senandung perjuangan IRM dalam Bahasa Bugis.  Paling tidak melalui paket ini hubungan antara fasilitator dan peserta menjadi cair, sehingga akan memperlancar proses pelatihan. Setelah itu Enal kembali menegaskan aturan-aturan pelatihan serta menunjuk seorang Kepala Suku untuk mengkoordinasi sesama teman-teman peserta.

3.     Catatan 02 Juli 2005
Pukul 08.00-10.00
Setelah shalat subuh para peserta dan Fasilitator imamah meminta kepada para peserta untuk berkumpul dan membentuk setengah lingkaran. Dalam khalaqah tersebut Asratillah memberikan tafsir makna. Ayat yang dikaji adalah Surah Al Baqarah ayat 30 , tentang proses dialog antara sang khalik dengan para malaikat menenai rencana Tuhan untuk menjadikan seoran Khalifah di muka Bumi. Imamah kemudian menjelaskan bahwa saat ini dalam sekolah-sekolah sering terjadi kontradiksi pemahaman mengenai siapakah manusia pertama, Adamkah atau Homo Sapiens . Imamah kemudian menambahkan bahwa kata Ja’ala dan kata Khalifatun dalam ayat tersebut memberikan indikasi adanya makhluk yang menjadi cikal bakal manusia. Terutama kata khalifah sebab kata ini berarti pengganti generasi sebelumnya, siapakah generasi sebelumnya yang telah digantikan ?. Tetapi permasalahan ini dilemparkan kepada para peserta untuk dipikirkan dengan cara penafsiran atau mencari makna akan Surah 2 ayat 30 tadi dan hasilnya akan didiskusikan setelah shalat Maghrib, setelah kajian makna maka peserta berbenah diri dan olahraga (main Volly) bersama crew fasilitator di lapangan untuk mengusir hawa dingin yang menyelimuti tubuh.
Sekitar satu jam olahraga  semua peserta lalu pergi “ngurus diri ces..” untuk menghilangkan “ bau keringat dan...... ketiak , huuu busuk, he...he..he. Cuman bercanda”. Setelah peserta dan sebagian fasilitator mandi “dasar fasilitator rantasa nanti siangpi baru pergi mandi” mereka lalu pergi “ngurusin kampung tengah, takut kalau cacingnya demonstrasi, bisa gawat” lagi pula ini untuk mengamalkan ungkapan “tidak ada logika tanpa logistik “.
Setelah itu sekitar pukul “ maaf lupa pasnya” salah satu fasilitator tergagah yaitu Asratillah “ dengan gamisnya yang anggun, dengan cara berjalannya yang berwibawa, dengan mata berbinar, dengan suara yang merdu ,dengan lambaian tangan yang aduhai, Hu......... sudah mi terlalu panjang mi leherku’ “ masuk bersama para peserta untuk mendiskusikan masalah Tauhid Sosial. Saat Sang Tillank memulai materi dengan begitu mempesonanya, dia memulai dengan meminta para peserta untuk mengelaborasi terlebih dahulu konsep tauhid yang telah didapatkan di PK TM I. Setelah itu Sang Tillank  memulai menjelaskan konsep Tauhid dengan menginterpretasi Surah Al Ikhlas “ Lu... Hapal Nggak” ayat 1-4, kemudian dilakukan pula Elaborasi apakah itu sosial ? dan akhirnya sampai kepada kesimpulan apakah itu Tauhid Sosial “Kalau Kita’ Apa Pendapatta’” Tetapi pada Intinya kata Sang Tillank “seorang pemuda cakep dengan status anak kandung” Tauhid Sosial adalah keseimbangan antara Habluminallah wa Habluminannas “Arab Banget, barusan tongngi itu”, kemudian Sang Tillank menjelaskan dasar-dasar kewajiban peka terhadap realitas Sosial dalam Surah Al Baqarah ayat 3 dan Surah Al Mauun . Kemudian dilanjutkan dengan studi kasus, pemasalahan sosial yang diangkat dalam studi kasus tersebut adalah masalah kelaparan dan Busung lapar “ kau iya tidak lapar ji ko, jujur mako saja’", Para peserta diberikan kesempatan untuk mendiskusikan kira-kira siapa yang terlibat dalam permasalahan tersebut, permasalahan-permasalahan turunan apa saja yang muncul dan bagaimana solusinya. Kemudian hasilnya dipersentasikan lalu ditarik kesimpulan “The End”.
Setelah materi tauhid sosial yang di bawa oleh irmawan yang merasa banget githu lho dirinya gagah chieeeeeeeee!, masuklah seorang irmawati yang biasa di juluki  wanita karier “ Ah yang bener aja”, yang tidak lain adalah Ervyanti, dengan gayanya yang lincah memberi games dibantu oleh Irmawan Ahmad Husein sang calon mahasiswa lho!. Kurang lebih lima belas menit games itu dibawakan oleh uchenk yang mampu membuat semua peserta tertawa terpingka-pingkal “Ha...Ha.....Ha “.

Tepat pukul 10.00 Wita
Datang lagi seorang Irmawan yang mengaku dirinya masih remaja padahal muka udah seumuran ayahanda lho!! (Cuma becanda kok!). Irmawan Muh. Basri memulai materinya dengan ucapan salam yang mampu memukau para peserta. Materi yang dibawakan oleh Muh. Basri yaitu konsep hati suci (IQ, EQ, SQ), menurut pendapat Basri Intelegensi Question (IQ),  merupakan suatu kecerdasan intelektual yang banyak terdapat pada otak dan akal, sedangkan Emotional Question (EQ), merupakan suatu kecerdasan atau  kemampuan untuk mengolah  emosi atau perasaan dengan baik yang katanya banyak terdapat pada hati manusia, untuk menyeimbangkan antara IQ dan EQ maka perlu adanya Spiritual Question (SQ) yaitu pengetahuan tentang keagamaan yang mampu menggugah spirit kita untuk semangat dalam menmjalani hidup ini. Materi yang dibawa oleh kanda Basri ini banyak yang ditanggapi dengan senyum bahkan tidak jarang peserta tertawa karena materi terkesan lucu karena banyak dibumbui oleh contoh-contoh kasus yang betul-betul sesuai dengan karakter remaja sehingga materi mudah dicerna oleh peserta dan tidak membuat peserta ngantuk dan boring, setelah ucapan “Nuun Wal qalamii Wamaa Yasthuruun” maka selesailah materi yang di bawa oleh kanda Basri.
Setelah materi tersebut, peserta diarahkan kemusallah untuk melaksanakan salat dhuhur secara berjamaah yang dipandu langsung oleh tiem fasilitator, kemudian salah satu dari fasilitator memberikan sedikit ilmu agama kepada peserta melalui kultumnya. Dengan selesainya aktivitas di musallah, peserta dan fasilitator menuju ruang makan, diruangan itu ngumpullah peserta dan fasilitator sambil menikmati makan siangnya ia juga saling sharing dan bahkan ada peserta yang sempat curhat kepada enal.

Pukul 13.30-15.30 Kepemimpinan Kelompok
Usailah makan siang, kembali peserta memasuki ruangan untuk menerima materi, materi pada saat itu adalah kepemimpinan berkelompok yang difasilitasi oleh Enal. Ketika Enal memasuki forum dan melihat peserta, Enal sangat prihatin kepada para peserta karena keliatan capek, ngantuk, lelah, letih, lesu,.........!
Metode yang digunakan dalam materi ini adalah games “kapal titanic”, dengan games ini peserta dapat mengetahui tugas dan tanggung jawabnya masing-masing, antar pemimpin dan bawahan. Peserta dalam forum ini sangat ambisius untuk mengetahui apa tugas dan tanggung jawab antara pemimpin dan bawahannya, sehingga mereka mendesak saya untuk menjelaskan secara rinci.

16.00-17.30 Gerakan Jama’ah dan Dakwah Jama’ah
Materi ini dibawakan oleh irmawati Nurhidayah, dengan gaya yang meyakinkan ia memasuki forum dan alurpun berjalan sesuai harapan dan materi akhirnya tersampaikan dengan baik (Simple tohh, kayak orangnya!)

20.30-23.00  Ideologi Gerakan IRM
Materi ini difasilitasi oleh Irmawan paling gagah di PW IRM Sulsel, Irmawan Hadisaputra. Sedari awal ia langsung membagi peserta kedalam 4 kelompok untuk mendiskusikan:

PAK UCHENK MENCURI ROTI
Di sebuah rumah yang bertipe RSS (Rumah Sangat Sederhana), hiduplah Pak Uchenk beserta keluarga, yang terdiri dari seorang istri (tamatan SD), dan seorang anak yang berusia kurang lebih 3 tahun.  Ia adalah seorang buruh pabrik di sebuah Kawasan Industri. Kebetulan mereka hidup bertetangga dengan Pak Basri, seorang pejabat teras Kantor wilayah Departemen Agama, yang hidup dalam gelimang kemewahan.  Nasib malang menimpa Pak Uchenk ketika perusahaan tempatnya bekerja mengeluarkan surat PHK berhubung karena perusahaan tersebut baru saja membeli mesin-mesin berteknologi canggih yang tidak lagi membutuhkan banyak tenaga kerja manusia.
Suatu hari Pak Uchenk dikejar-kejar oleh seorang Polisi. Karena ketahuan telah mencuri roti dari sebuah toko “Icchank Bakery”. Ia mencuri roti  tersebut karena terdorong oleh beban tanggung jawab sebagai kepala keluarga, dimana istri dan Anaknya sudah sekitar 2 hari ini belum makan. Mereka sudah tidak memiliki uang simpanan lagi, sebulan setelah ia di-PHK, ia belum juga mendapatkan pekerjaan.
Pada awalnya ia berhasil lolos dari kejaran polisi, dan dapat memberikan roti yang dicurinya tersebut kepada anak dan istrinya. Sayangnya belum sempat Istri dan anaknya menikmati roti tersebut, Polisi berhasil menciduknya dan mengambil kembali roti-roti tersebut sebagai barang bukti. Pak Uchenk pun ditangkap dan anak-Istrinya pun menangisi kepergiuannya sambil menahan lapar yang teramat sangat.
Dari Kisah diatas, diskusikanlah bersama kelompomu hal-hal berikut:
1.      Siapakah yang menjadi penjahat kemanusiaan dalam kisah tersebut?
2.     Jika kamu tinggal di sekitar lingkungan tempat tinggal Pak Uchenk, apa yang dapat kamu lakukan?
3.     Pelajaran apa yang dapat kamu petik dari kisah diatas?
4.     Kaitan antara kasus diatas dengan paradigma yang dianut IRM?
Sesudah mendiskusikan studi kasus  diatas, setiap kelompok melakukan presentasi. Setelah semua kelompok melakukan presentasi, fasilitator kemudian mengarahkan diskusi ke pembahasan Ideologi Gerakan IRM; Islam Kritis-Transformatif.


4.     Catatan 03 Juli 2005
Pukul 08.00-12.00:  Manajemen Kegiatan, Teknik Pembuatan Proposal, dan Sistem Administrasi Persuratan IRM
Dari judul materinya saja yang puanjaaang dan buanyaaak sudah tergambar kalau materi ini akan sangat memboankan dan melelahkan. Untung saja materi ini difasilitasi oleh Iccan’k, sehingga semua kekhawatiran tadi tidak terjadi. Mengawali materi, fasilitator memulai dengan games kecil-kecilan yaitu games Trilogi Pendidikan (ko tau’ mi lah apa itu). Ternyata setelah melakukan ekplorasi tentang pengalaman peserta dalam kepanitiaan yang pernah mereka ikuti, peserta cukup banyak tahu tentang langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam mempersiapkan sebuah kegiatan. Namun, yang kurang adalah tidak sistematisnya langkah-langkah yang mereka lakukan dalam menyusun langkah-langkah kerja tersebut. Maka sesi manajemen kegiatan dihabiskan dengan menyusun dan mensistematiskan kembali langkah-langkah yang mereka lakukan dalam mempersiapkan kegiatan dan mencoba memberikan gambaran tentang pola umum kerja yang dilalui dalam merencanakan sebuah kegiatan.
Sesi teknik penyusunan proposal selesai setelah fasilitator meminta peserta untuk menyusun sebuah proposal kegiatan dengan mengacu pada contoh proposal yang diberikan. Setelah itu mereka kemudian mempresentasekan proposal yang mereka susun didepan teman-teman untuk saling mengoreksi kesalahan. That’s all for this session.
Untuk Sesi Sistem Administrasi Persuratan IRM, fasilitator membagikan catatan tentang kodifikasi surat-surat IRM, dan beberapa contoh surat IRM. Kemudian menjelaskan tentang bagian-bagian surat IRM dan ditutup dengan menjawab berbagai pertanyaan yang timbul dari peserta.

Pukul 13.00-Selesai:  Rencana Tindak Lanjut dan Evaluasi

Tindak Lanjut Pelatihan. Berdasarkan kegiatan pelatihan ini, ada beberapa tindak lanjut yang harus diambil oleh beberapa peserta yang akan terlibat dalam proses pelatihan yang akan datang, yaitu ..........(Tanyaki Hadisrah...)

Evaluasi dan Penutup. Peserta untuk memberikan evaluasi tertulis yang meliputi materi pelatihan, metode yang digunakan (apakah bermanfaat bagi Anda secara pribadi?), apa yang kurang cocok dalam pelatihan ini (materi, metode, atau hal lain?), bagaimana dengan fasilitator? Panitia mengumpulkan hasil evaluasi Fasilitator menunjuk satu peserta untuk menjadi timekeeper yang memberi tanda jika waktu peserta memberikan pendapat secara verbal telah habis (50 detik untuk setiap peserta) Fasilitator secara bergantian memberikan kesan tentang pelatihan Panitia menutup Acara Pelatihan. (Ini idealnya...tapi kayaknya waktu itu tidak dilakukan dech...)


Penutup

Barisan PW meninggalkan Barru dengan ucapan dada...                                            Sampai Jumpa pada TM II yang akan datang....!!!

Barru, 03 Juli 2005



 
 
Support : Copyright © 2011. catatan hadisaputra - All Rights Reserved
Developed with creative works by: Orang Biasaji